Kiai Asep Bantu Rp1,5 M untuk Buku Perjuangan Ketum PBNU Pertama Hasan Gipo

Surabaya (narasi.net) - Kepedulian terhadap rekam jejak para pendiri bangsa dan ulama Nusantara kembali ditunjukkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA.

Setelah sukses memperjuangkan gelar pahlawan nasional untuk sang ayah, KH. Abdul Chalim, Kiai Asep kini memprakarsai pengusulan KH. Hasan Gipo—Ketua Umum PBNU pertama (1926–1934)—sebagai Pahlawan Nasional.

Tidak tanggung-tanggung, kiai yang dikenal dermawan ini siap memfasilitasi pembiayaan penyusunan buku sejarah perjuangan yang diperkirakan mencapai Rp 1,5 miliar, termasuk menghadirkan tim ahli sejarah dan pencarian data primer lintas arsip.

Langkah besar ini mengemuka dalam acara Sarasehan NU di Hotel KHAS Surabaya, Sabtu (26/9/2026). Dalam paparannya, Kiai Asep menegaskan bahwa kontribusi KH. Hasan Gipo terhadap Republik Indonesia sangat fundamental namun kerap luput dari sorotan publik.

Lahir pada tahun 1869—lebih sepuh dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari—Hasan Gipo merupakan seorang saudagar besar sekaligus konglomerat ulung pada masanya. Ia memimpin perusahaan dagang terkemuka PT Ngampel Dento berkapitalisasi 50 ribu golden dan berani bersaing dengan pengusaha kolonial serta Tionghoa. Seluruh jaringan dan kekayaannya banyak dipersembahkan untuk kemaslahatan umat, pembangunan masjid, hingga pergerakan kemerdekaan.

"Tanpa Hasan Gipo, tidak terbayangkan ada Komite Hijaz. Tanpa Komite Hijaz, tak ada Nahdlatul Ulama. Dan tanpa NU, kita takkan pernah melihat heroisme Resolusi Jihad 10 November di Surabaya," tegas Kiai Asep di hadapan para hadirin.

Sementara itu, Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Usep Abdul Matin, PhD, yang hadir sebagai narasumber, menyebut Hasan Gipo ibarat "mutiara di depan mata" yang selama ini belum tersentuh kajian akademik mendalam.

Menurut Prof. Usep, minimnya literatur dan riset ilmiah membuat nama-nama besar seperti Hasan Gipo kurang populer di ranah akademis nasional maupun arsip resmi negara, berbeda dengan para tokoh sentral lainnya yang telah banyak dikaji dunia internasional.

Dengan dukungan penuh dari Kiai Asep serta keterlibatan para pakar sejarah terkemuka, penyusunan naskah akademik ini diharapkan segera rampung. Langkah krusial berikutnya adalah menjalin komunikasi intensif dengan pihak keluarga besar Kiai Hasan Gipo guna melengkapi syarat administratif pengusulan gelar pahlawan nasional secara resmi.

Melalui ikhtiar ini, rantai sejarah berdirinya Republik Indonesia diharapkan semakin utuh, sekaligus mengenalkan kembali keteladanan para pahlawan ekonomi dan keagamaan kepada generasi masa kini. (Red)

Berita Terkait